TRENDING NOW

SYIRIK

KOMUNIS

syiah, Cyber Tauhid
Di akhir tahun 2017, Google menetapkan Habib Rizieq Shihab sebagai tokoh terpopuler sepanjang tahun ini. Kabar itu didapat setelah Google merilis Year In Search 2017, yakni tren penelusuran paling tinggi di mesin pencarian selama tahun 2017 di Indonesia.

Nama Habib Rizieq sudah mulai terlihat meninggi di awal tahun dalam pengukuran pencarian dari waktu ke waktu, Google Trends. Warganet Indonesia begitu tertarik dengan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu.

Ditulis Viva, untuk lokasi pencarian Habib Rizieq, Tercatat paling banyak yakni warganet di Banten, DKI Jakarta, diikuti Jawa Barat, Aceh dan Bangka Belitung.



Nama Habib Rizieq memang makin moncer setahun terakhir ini. Keberaniannya menggerakkan umat Islam untuk menuntut keadilan terhadap Ahok yang telah menista agama membuatnya jadi idola umat.

Apalagi kemudian aksi heroiknya itu meninggalkan jejak bersejarah yakni Aksi 212 yang berhasil mengumpulkan 7 juta umat Islam dan tumbangnya Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Nama Habib Rizieq pun makin dicari warganet karena adanya kasus yang oleh banyak pihak disebut sebagai kriminalisasi ulama sehingga membuatnya "hijrah" ke Arab Saudi sebagai bentuk perlawanan. [wjd]
syiah, Cyber Tauhid
 Semangat tokoh-tokoh JIL untuk mengkritik Gubernur DKI Anies Baswedan kerap berbalik menjadi bahan tertawaan. Mungkin karena begitu semangatnya, mereka tidak melihat data dan fakta terlebih dahulu.

Salah satunya dialami Guntur Romli, baru-baru ini. Ia mempertanyakan keberpihakan Anies kepada rakyat terkait dana parpol.

“Di mana keberpihakan, Anies bagi-bagi duit untuk parpol-parpol dengan angka fantastis 17,7 Miliar! Bandingkan zaman Ahok hanya 1,8 Miliar. Ke mana-mana ngeluh2 PAUD, eh yang cepat2 dicairkan hibah parpol di 2017 ini,” kicaunya melalui akun Twitter @gunromli, 30 November lalu.


Rupanya, peningkatan dana parpol menjadi 17,7 Miliar itu diteken oleh Djarot di APBD-P 2017.

Pada Selasa (12/12/2017), Kumparan merilis berita berjudul Bukti Dana Parpol Rp 17,7 M Diteken Djarot di APBD-P 2017.

Tak pelak, “serangan” Guntur Romli itu pun ditertawakan oleh Pendiri Indonesia Tanpa JIL (ITJ) Akmal Sjafril.

“OK, sebelum menutup kegiatan di Twitter malam ini, mari kita ketawa dulu. Ini caleg mana ya? Dulu pas pilkada jadi buzzer siapa kira2?,” tulisnya, Rabu (13/12/2017) malam, sembari mengunggah screenshoot serangan Guntur Romli dan berita Kumparan yang membantahnya.

OK, sebelum menutup kegiatan di Twitter malam ini, mari kita ketawa dulu. Ini caleg mana ya? Dulu pas pilkada jd buzzer siapa kira2? 😁


Banyak netizen yang mentertawakan Guntur Romli. Ada pula yang menanggapinya dengan komentar lain.

“Ini baru kena batunya, menampar mukanya sendiri, ahahahah kagak ada malu pengikut JIL,” kata @lookinglove62


“Heran ya pendukungnya kok kayak pada gak punya data yang bener, kmrn abu Janda di ILC, skr Guntur Romli...,” kata @rifanikunafir [tby]
syiah, Cyber Tauhid
Jakarta – Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Endro Sudarsono menyebut adanya kemungkinan unsur kesengajaan dalam pancantuman Yerusalem sebagai Ibukota Israel di buku terbitan Yudhistira.

“Ada kemungkinan itu disengaja,” ungkap Endro di Solo, Rabu (13/12/17).

Endro mengaku telah membandingkan isi buku sejenis keluaran dua penerbit berbeda. Hasilnya, buku lain tidak mencantumkan Yerusalem sebagai Ibukota Israel.

“Jadi Yerusalem itu miliknya Palestina dan untuk Tel Aviv itu Israel,” jelasnya.

Endro pun menjelaskan temuannya dalam buku terbitan Yudistira. Pada bab keenam pembahasan Asia Barat tertulis Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sementara, di dalam buku tersebut Palestina tidak memiliki ibukota atau kosong.

“Pada buku IPS Terpadu kelas 6 A Yudistira, di mana pada bab 6 tertulis pada pembahasan asia barat yang mana Israel mendapat Ibukota di Yerusalem. Sementara itu Palestian itu tidak ada atau kosong,” terangnya.

Endro mengaku mendapat informasi tentang buku kontroversial itu pada Selasa siang. Dia mendapat langsung bukti nyata berupa buku IPS kelas 6 pada sore harinya. Dia kemudian mendatangi penerbit Yudistira yang berada di Solo dan mengklarifikasi langsung dari pihak terkait.

Reporter: Reno Alfian
Editor: Imam S.
syiah, Cyber Tauhid
Surabaya – Ustadz Alfian Tanjung dijatuhi vonis 2 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya.

Sidang vonis perkara Alfian Tanjung digelar hari ini. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum mendakwanya dengan pasal 156 KUHP dan UU Penghapusan Diskriminasi Ras & Etnis (UU PDRE).

“Bersalah melakukan tindak pidana menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan deskriminasi ras dan etnis,” kata Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya, Dedi Fardiman, Rabu (13/12/2017).

Alfian dinyatakan bersalah melanggar Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b butir 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Ras dan Etnis. Sebelumnya, jaksa menuntutnya dengan hukuman tiga tahun penjara.

Putusan hakim Pengadilan Negeri Surabaya tersebut dikeluarkan terkait ceramah yang dilakukan Alfian Tanjung di Masjid Mujahidin, Tanjung Perak, Surabaya pada Februari 2017. Menggapi vonis itu, Alfian langsung menyatakan akan melayangkan banding.

Proses sidang vonis Alfian Tanjung diwarnai aksi unjuk rasa di luar gedung PN Surabaya. Laporan kontributor Kiblat.net menyebutkan ratusan laskar memberikan dukungan kepada Alfian dalam sidang yang berlangusng Rabu (13/12/2017) siang.

Kuasa hukum Alfian Tanjung, Muhammad Alkatiri mengaku kecewa dengan putusan hakim, yang dinilainya jauh dari rasa keadilan. Dia tegas akan mengajukan banding atas vonis perkara yang dinilianya banyak kejanggalan tersebut.

“Kami akan hadapi semua kejanggalan itu,” tandasnya.

Reporter: Imam S.
Editor: Wildan Mustofa
syiah, Cyber Tauhid
PALESTINE : Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan akan mengunjungi pusat Uni Eropa di Brussels, Belgia, pada Senin (11/12). Namun, sejumlah anggota parlemen Uni Eropa telah menyiapkan kejutan untuk politikus Yahudi itu.

Haartez, Jumat (8/12), mengabarkan, mereka akan menagih denda sebesar 1,2 juta euro (setara Rp 19 miliar) kepada Netanyahu. Alasannya, tentara Israel di bawah komando Netanyahu terbukti melumat Area C milik Uni Eropa (UE) di Tepi Barat, Palestina.

Area C merupakan fasilitas bantuan kemanusiaan yang dihadirkan UE untuk rakyat Palestina yang papa. Area itu terdiri atas sejumlah bangunan sekolah, taman kanak-kanak, pembangkit listrik, pengairan, serta rumah-rumah semipermanen untuk kaum tunawisma.



Besaran denda kira-kira Rp 19 miliar itu telah disepakati belasan anggota parlemen UE. Bahkan, mereka berencana akan memasang iklan satu halaman penuh pada koran terbitan Israel, Haaretz, untuk menagih utang Netanyahu.

Tidak hanya pariwara. Beberapa anggota parlemen UE juga telah memasang poster-poster di lokasi lawatan Netanyahu nanti di Brussels.

"Atas nama rakyat pembayar pajak, warga negara-negara anggota Uni Eropa. Sekitar 400 unit fasilitas bantuan kemanusiaan UE yang diperuntukkan bagi rakyat Palestina di Tepi Barat telah dihancurkan serbuan militer Israel. Ini melanggar hukum (internasional) tentang bantuan kemanusiaan. Serangan sebanyak itu terjadi sejak Anda (Netanyahu) menjadi perdana menteri pada 2009," demikian kata-kata pada poster itu, seperti dikutip Haaretz.

Pada Senin (11/12) mendatang, Netanyahu melakukan kunjungan tak resmi ke kantor parlemen Uni Eropa dengan agenda sejumlah pertemuan multilateral.
syiah, Cyber Tauhid
LIBERAL :  Ormas Nahdlatul Ulama menolak disebut ikut dalam aksi penolakan Ustadz Abdul Somad di Bali. Hal itu disampaikan Zunus Muhammad salah satu pengurus NU online.

Seperti diberitakan di berbagai media, Gus Yadi disebut-sebut sebagai tokoh NU yang melakukan pelaporan Ustadz Abdul Somad ke Polda Bali.

“Ormas Patriot Garda Nusantara (PGN) dibawah naungan NU, dengan dipimpin oleh Gus Yadi mendatangi Polda Bali untuk melaporkan ustad Somad hari ini, (7/12). Klausul yang dilaporkan oleh PGN adalah perihal soal penistaan agama oleh Somad,” demikian seperti dikutip arrahmahnews.com, Kamis (7/12/2017).



Tak berhenti sampai di situ, Gus Yadi juga ikut melakukan penolakan Ustadz Abdul Somad ketika hendak berceramah di Denpasar Bali.

“Sekitar seratus orang dari Gerakan Nasionalis Patriot Indonesia, Perguruan Sandi Murti dan ormas Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Bali menolak kehadiran penceramah Abdul Somad alias Ustadz Somad di Bali,” demikian seperti dikutip media online kbr.id, Jum’at (8/12/2017).

Berita tersebut juga dikutip media nasional lainnya, seperti tribunnews.com, repelita, suaranasional termasuk panjimas dan lain-lain.

Lantas siapa sosok Gus Yadi? Menurut Zunus dia bukanlah siapa-siapa, apalagi pengurus NU. Sebaliknya PWNU justru ikut mengawal Ustadz Somad.

“Nama aslinya Agus Priyadi, dipanggil gus karena Agus, jadi bukan gus sebagai tokoh NU seperti yang kita sebut. Dia bukan siapa-siapa. Apalagi NU bukan juga. Bahkan Ketua PWNU turun langsung mengamankan Ustadz Abdul Somad (UAS) dari bandara hingga pengajian bisa berjalan. Jamaah yg hadir justru warga Nahdliyin. Alhamdulillah,” kata Zunus mengutip pernyataan Ketua Ansor Bali, yang tak disebutkan namanya.

Kabar terakhir, Ustadz Abdul Somad sendiri sudah diperbolehkan berceramah di Denpasar Bali, berkat mediasi aparat kepolisian bersama umat Islam dan tokoh masyarakat di Bali.
syiah, Cyber Tauhid
Bismillah,
Allah gunakan Ustadz Felix Siauw mempermalukan, menyingkap selendang kepura - puraan dan merobek baju kemunafikan Permadi Arya alias Abu Janda (bapaknya janda) disaksikan minimal seluruh Indonesia dalam acara ILC TVone (LIVE)..

Ko Felix Siauw mengatakan bahwa di media sosial sering mention saya.. ternyata ganasnya cuma acting, tak doain imannya bukan acting..

Abu Janda menilai Reuni 212 akhir pekan lalu ternoda dengan beredarnya bendera hitam putih tersebut. Menurutnya, bendera itu tegas adalah bendera ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), itu jelas sudah dibubarkan. Kenapa benderanya ada? Bahkan dia menyalahkan aparat ke mana?

Jelas apa yang dikatakan Abu Janda itu bisa termasuk kebohongan publik, penggiringan opini dan hate speech yang sebenarnya, sebagai ucapan provokasi !

Karena bendera yang diklaim sebagai bendera hizbut tahrir indonesia ternyata adalah bendera Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, benderanya ummat Islam.

Bahkan MATERI yang disiapkan adalah gambar Foto yang ditunjukkan Abu Janda tersebut ternyata bukanlah bendera Panji Rasulullah, tetapi bendera Turki Utsmani.

Bendera Turki Utsmani bertuliskan إنا فتحنا لك فتحا مبينا bukan لا اله الا الله محمد رسول الله
Saya lebih dari 15x ke Turki dan tidak ada 1 pun bendera Rasulullah yang dipajang di Museum Topkapı, Istanbul, Turkey, entah data dari mana, fatal kesalahannya.. saya tidak tau Abu Janda pernah kesana atau tidak?

Ko Felix mempertanyakan bagaimana mungkin ada ummat muslim yang anti dengan syahadatnya sendiri? Atau jangan - jangan dia tidak paham bahwa itu adalah tulisan syahadatain?

Sesungguhnya rayah yang dipakai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna hitam, sedangkan liwa’ (benderanya) berwarna putih. (HR Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah).
Rayah dan liwa’ sama-sama bertuliskan لا اله الا الله محمد رسول الله. Pada rayah (bendera hitam) ditulis dengan warna putih, sebaliknya pada liwa’ (bendera putih) ditulis dengan warna hitam
.
Kini keadaannya telah dipermalukan oleh kejahilannya sendiri dan Allah telah menampakkan perkaranya di dunia ini kepada hamba-hamba-Nya yang beriman..

Setelah penyebab sepele yang mempermalukan Abu Janda telah terungkap, maka tampak jelaslah perkaranya di mata hamba-hamba Allah yang mukmin, bagaimana mereka dapat menampakkan diri bahwa seakan-akan termasuk orang-orang mukmin, dan bahkan berani bersumpah untuk itu? Dengan demikian, tampak jelaslah kedustaan dan kebohongannya..

وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allâh menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS. At Taubah 107)
Semoga Allah menghindarkan kita dari perilaku dan perangai kaum munafik.

اَللّهُ اَكْبَرُ اَللّهُ اَكْبَرُ اَللّهُ اَكْبَرُ

Allah yu baarik fiik ko Felix Siauw 
(Hanny Kristianto)
syiah, Cyber Tauhid

Pakar Kristologi, Ustadz Insan Mokoginta mengatakan, perkembangan pemurtadan di Indonesia sangatlah luar biasa.

“Jadi bukan lebih banyak orang Kristen masuk Islam, tapi orang Islam masuk ke Kristen,” ujar Ustadz Insan Mokoginta di aula Masjid Al-Furqon, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (21/11/2017).

Menurutnya, hal itu wajar terjadi karena di Indonesia mayoritas muslim jadi yang murtad ke Kristen jauh lebih banyak. Pemurtadan itu memang sudah menjadi sunnatullah, maka mau tidak mau pemurtadan itu harus dihadapi.

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka,” katanya mengutip Q.S. Al-Baqarah ayat 2.

Sebelumnya, Dr. Muhammad Nanang Prayudyanto dalam pemaparannya yang disampaikan pada dialog data pemurtadan di aula Masjid Al-Firqon, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Selasa (21/11) mengatakan bahwa jumlah orang yang masuk Islam lebih banyak daripada orang yang murtad.

“Jumlah muallaf 10 kali lipat daripada jumlah orang yang murtad,” ujar Dr. Muhammad Nanang mengutip survei Kemenag, di Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Jalan Kramat, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (21/11/2017).

Tetapi, berdasarkan pengalaman di lapangan, Ustadz Insan Mokoginta menjelaskan bahwa orang yang murtad jauh lebih banyak daripada orang yang masuk Islam.

“Menurut saya (data) ini terbalik, lebih banyak muslim masuk ke Kristen. Dan, 99,9% orang yang murtad masuknya ke Kristen,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa orang-orang di Indonesia lebih banyak yang miskin, bodoh, awam, berpendidikan rendah jadi mudah dipengaruhi.

“Kadang-kadang cuma karena supermie aja murtad kok. Jadi, tidak mungkin kalo lebih banyak orang yang masuk Islam dibanding orang yang masuk Kristen. Buktinya populasi umat Islam di Indonesia semakin menurun” pungkasnya. [DP]
syiah, Cyber Tauhid
Oleh: Roni Tabroni
Penulis adalah Dosen Komunikasi Universitas Sangga Buana YPKP dan UIN SGD Bandung



MEDIA massa Islam di tanah air baik yang masih maupun tidak terbit lagi merupakan warisan tidak ternilai harganya. Media massa yang beridiologi Islam telah memberikan warisan peradaban sangat penting. Perkembangan pemikiran Islam tidak lepas dari peran media massa yang dikelola baik organisasi maupun kelompok Islam tertentu dengan konten yang sangat mencerahkan.

Walaupun mengalami pergeseran dari sisi bobot dan kajian konten yang disajikan, nyatanya media massa Islam (khususnya yang tercetak) hingga kini masih eksis dan tetap bertahan. Dari sekian banyak media massa Islam yang telah terbit dan tenggelam di tanah air, Suara Muhammadiyah merupakan majalah paling tua yang masih terbit – sejauh penelusuran saya – dan hingga kini tidak lelah memberikan pencerahan kepada ummat.

Namun demikian, ada pertanyaan mendasar terkait dengan eksistensi media massa Islam yang berbasis cetak ini. Akankan media massa Islam ini tetap hadir menyapa khalayak? Jika masih akan tetap ada, sampai kapan media itu hidup?


Jika didiskusikan, tema ini mungkin tidak akan habis diperdebatkan. Walaupun ada futurolog meyakini jika media cetak akan punah tahun 2040, namun Jakob masih yakin jika media cetak akan tetap bertahan dan tidak akan tergantikan. Prediksi ini sesungguhnya berlaku umum, namun sebagai bagian dari media massa, Koran atau majalah Islam pun bisa jadi ada di dalamnya.

Untuk itu penting kita mengkaji beberapa aspek dari keberadaan media massa Islam terkait dengan karakteristiknya. Pertama, media massa Islam pada umumnya berbasis pada opini bukan berita. Jika pun ada media massa Islam yang berbasis berita, maka teknik reportasenya sangat khas. Walaupun media secara umum tidak lepas dari subjektifitas, namun media massa Islam lebih fulgar dan sangat jelas keberpihakannya.

Teknik jurnalistik di media massa Islam ini memiliki kekhassan dan cenderung tidak sama dengan media massa pada umumnya. Para reporter dan redaktur seperti berada di dunia media yang berbeda dibanding media massa pada umumnya. Teknik reportase tidak banyak di lapangan dan mobile, tetapi lebih fokus pada wawancara tokoh dan penelusuran referensi.

Kedua, media massa Islam lebih banyak diterbitkan oleh organisasi atau kelompok Islam tertentu. Media ini menjadi partisan karena diterbitkan untuk kepentingan organisasi atau golongan. Maka subjektifitas yang kental di atas bisa jadi dikarenakan pengaruh kepemilikan yang kuat mempengaruhi keberadaan media tersebut.



Ketiga, media massa Islam lebih menjadi saluran propaganda sekaligus menangkal pengaruh luar. Selain menyerang “lawan“, media ini juga lebih berfungsi untuk melindungi kelompok dan jamaahnya dari pengaruh luar.

Keempat, secara kelembagaan, media massa Islam lebih cenderung memberdayakan SDM internal kelompoknya dibanding melakukan rekrutmen terbuka dengan mencari orang-orang professional di luar kelompoknya. Jika diisi oleh orang luar, dihawatirkan isi media menjadi bias dan tidak terkontrol, selain persoalan lain bagi sebagian media yaitu aspek financial yang kurang mendukung.

Kelima, media massa Islam tidak tersebar luas, hanya beredar di kalangan internal. Kalaupun ada yang dijual bebas, jumlahnya sangat terbatas dan oplahnya tidak besar. Kondisi ini sangat mungkin dipengaruhi konten yang bersifat internal dan hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, sehingga ketika dilempar ke pasar yang lebih luas cenderung kurang laku. Atau, memang pemilihan jangkauan juga merupakan bagian dari pilihan itu sendiri.

Keenam, jika menelusuri keberadaan media massa Islam dahulu – kebanyakan sudah tidak terbit lagi – media tersebut lebih membangun wacana yang sangat terbuka. Selain membuka wawasan Islam yang sangat mencerahkan, media massa Islam juga sangat erat dengan isu-isu nasionalisme. Lewat media massa, para tokoh Islam dulu membangun peradaban masyarakat yang lebih maju.



Dahulu, media massa Islam lebih open minded, tidak kaku dalam membangun wacana, mencerahkan, bahkan sebagiannya sangat ekstream. Misalnya bagaimana media “Mimbar” menyuguhkan rubrik khusus Kristologi pada tahun 60-an. Termasuk bagaimana media massa Islam dulu sangat terbiasa dengan idiologi-idiologi kiri dan nasionalis. Di sini tentu sangat terang bagaimana media massa Islam memberikan pendidikan yang lebih terbuka dan memberikan pilihan berfikir dengan argumentasi yang jelas.

Namun, dari kekhassan tersebut, media massa Islam memiliki keunggulan yang bisa dijadikan modal untuk tetap bertahan walaupun dengan syarat. Modal dimaksud adalah soliditas antara pengelola dengan khalayaknya. Media massa Islam yang dibangun di atas kelompok dan Ormas tertentu sesungguhnya mereka memiliki hubungan erat sebagai sebuah keluarga besar. Hal ini pula yang membuat jamaah dari Ormas atau kelompok Islam tersebut merasa memiliki terhadap media massanya.

Hanya saja, seiring dengan perkembangan zaman, di mana rasionalitas publik semakin maju, maka mengandalkan ikatan emosional saja kini tidak cukup. Maka diperlukan aspek profesionalitas pada media massa Islam, sehingga ummatnya selain tetap memilih medianya tersebut dengan alasan sebagai keluarga, tetapi juga memang kontennya dibutuhkan karena kualitas isinya. Sehingga ke depan, tidak lagi media itu dimiliki jamaahnya karena memiliki ikatan keluarga, tetapi memang media itu benar-benar ditunggu dan dibeli secara proaktif. Jika sudah terpadu antara aspek kedekatan emosional dan kwalitas media, maka bukan tidak mungkin media massa cetak Islam ini akan tetap hadir sepanjang zaman. Al ilmu minallah.
syiah, Cyber Tauhid
KAJIAN ISLAM : Para ulama sepakat bahwa di antara salah satu adab yang dianjurkan dalam berdoa adalah mengangkat kedua tangan. Namun perlu dipahami bahwa dalam berdoa tidak selamanya harus demikian. Sebab, dalam beberapa kondisi Rasulullah mencontohkan hal yang berbeda, yakni dalam doanya beliau tidak mengangkat kedua, tapi hanya mengisyaratkan dengan dengan jari telunjuknya saja. Contohnya ketika beliau berdoa di penghujung Khutbah Jumat.

Diriwayatkan dari Ammarah bin Ru`bah, ia melihat Bisyr bin Marwan berdoa seraya mengangkat kedua tangannya di atas mimbar, lalu Ammarah bilang:

قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا. وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ.

‘Semoga Allah memburukkan kedua tangannya itu. Sungguh, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih dari berisyarat seperti ini,’ ia berisyarat dengan jari telunjuk,” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menambah lebih dari itu dan beliau berisyarat dengan jari telunjuknya.” (HR. An Nasai no. 1412)

An-Nawawi menjelaskan,

هَذَا فِيهِ أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ لَا يَرْفَعَ الْيَدَ فِي الْخُطْبَةِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَأَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ . وَحَكَى الْقَاضِي عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ وَبَعْضِ الْمَالِكِيَّةِ إِبَاحَتَهُ لِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَفَعَ يَدَيْهِ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ حِينَ اسْتَسْقَى وَأَجَابَ الْأَوَّلُونَ بِأَنَّ هَذَا الرَّفْعَ كَانَ لِعَارِضٍ .

“Hadits ini menjelaskan, sunah saat berdoa dalam khotbah adalah tidak mengangkat kedua tangan. Demikian pendapat Malik, shahabat-sahabatnya, dan juga yang lain. Qadhi Iyadh meriwayatkan dari sebagian salaf dan sebagian fuqaha Malikiyah, boleh mengangkat tangan saat berdoa dalam khotbah Jumat, karena Nabi mengangkat kedua tangan dalam khotbah Jumat, saat meminta hujan. Kalangan sebelumnya menanggapi hadits ini bahwa beliau mengangkat tangan karena suatu hal terjadi.” (Syarh Shahîh Muslim, Nawawi, V/411)

Asy-Syaukani menuturkan, “Hadits ini menunjukkan, makruh mengangkat kedua tangan di atas mimbar saat berdoa. Itu bid’ah.” (Nailul Awthâr, III/308)

Abu Syamah menyebutkan terkait sejumlah bid’ah pada hari Jumat, “Mengangkat kedua tangan saat berdoa—dalam khotbah—adalah bid’ah lama.” As-Suyuthi juga menyatakan hal yang sama dalam kitabnya, Al-Amr bil Ittibâ’ wan Nahyu ‘anil Ibtidâ’. (Al-Bâ’its,  hal: 80, Al-Amr bil Ittibâ’ wan Nahyu ‘anil Ibtidâ’, hal: 247)

Disebutkan dalam Ikhtiyârât, Ibnu Taimiyah menuturkan, “Makruh bagi imam mengangkat kedua tangan saat berdoa dalam khotbah. Inilah salah satu dari dua pendapat paling sahih di kalangan para shahabat kami, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berdoa dalam khotbah hanya berisyarat dengan satu jari. Adapun saat meminta hujan, beliau mengangkat kedua tangan kala berada di mimbar.” (Ikhtiyârât, Ibnu Taimiyah, hal: 80, Fathul Bâry, II/412)

Jadi, pendapat yang kuat dalam hal ini adalah seorang khatib tidak perlu mengangkat kedua tangannya ketika berdoa di penghujung khutbah. Namun cukup baginya mengisyaratkan dengan jari telunjuknya saja. Sebab, demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkannya. Wallahu a’lam bis shawab!



Fakhruddin

Sumber: Kitab Al-Jâmi’ Li Ahkâmish Shalâh Wa Shifatu Shalâtin Nabiy Shalallâhu ‘Alaihi Wa Sallam, karya Abu Abdirrahman Adil bin Sa’ad

VIDEO

KRISTENISASI

SYIAH

LIBERAL