TRENDING NOW

SYIRIK

KOMUNIS

syiah, Cyber Tauhid
Maka hari ini....
Jika puasa terasa melemahkan,
Jika tarawih melelahkan,
Jika tilawah memayahkan,
Mari menatap sejenak ke arah Palestina atau Suriah.
.


Sebab mereka dpt mewakili kita di garis depan iman, dibakar musim panas, direpotkan hajat, dicekam ancaman, disuguhi besi dan api, tapi mereka teguh dan tangguh,
.
Mereka nan darahnya mengalir dengan tulang pecah, tapi tak hendak membatalkan shaum sebab ingin syahid berjumpa Rabbnya dalam keadaan puasa.
.
Mereka gadis-gadis belia yang menulis nama di tangannya, agar jika syahadah menjemput dan jasad remuk tiada yang susah bertanya siapa namanya.
.
Hari ini ketika kolak dan sop buah tak memuaskan ifthar kita, tataplah sejenak ke negeri yang kucing pun jadi halal karena tiadanya makanan lagi.
.
Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan palestina
Dengan kepahlawanan mereka nan lebih suka bertemu Allah dari pada hidup membenarkan tiran.
.
Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan suriah
ketika kisah ibu yang memasak batu dan menidurkan anaknya dalam hujan peluru adalah fakta.
.
Lalu tidakkah kita di sini bersyukur atas nikmat yg Allah berikan kepada kita dengan menggunakan beribadah kepada-Nya??
.
Mari kita Renungi...
.
Di mana urat malu kita kepada saudara2 kita di sana Jika kita tdk puasa ?
.
Di mana rasa ketaatan dan takut kita kepada kepada Allah subhanahu wa ta'ala jika kita durhaka ??
.
Padahal kita dapat menjalankan ibadah puasa dgn tenang tanpa ancaman.
.
Padahal kita dapat menikmati makanan mana saja yg kita sukai untuk di jadikan berbuka puasa dan sahur
.
Padahal kita dapat shalat taraweh dengan tenang dan khusyu, di mana saja masjid byk kokoh berdiri di setiap gang.
.
Masihkah kita ingkar atas nikmat yg Allah berikan ???
Ampuni hamba ya robb
syiah, Cyber Tauhid

Sebenarnya sikap kedua anak ini tidak pantas untuk ditiru lho ya. Sebenci apapun kita kpd seseorang tidaklah layak bersikap demikian dg alasan apapun...

Tapi kadang2 sikap yg sama tidak selalu direspon sama juga, baik oleh masyarakat dan aparat.
Andai anak yg sarungan itu gak pake peci, mata sipit, badan putih kemudian bilang "presiden cecunguk gue" bisa jadi aman...paling dianggap lucu2 ajah...
Andai anak yg berkacamata itu pake peci, mata belok, kulit brownis, suporter FPI pula...bisa saja dia gak aman dan dianggap gak lucu...bahkan bisa saja disebut teroris.

Padahal Usia mereka bisa jadi sama ajah...
Dimata Hukum (kalau masih ada) pun mereka berdua sama...
Sehingga kalau orang dewasa (khususnya aparat) bersikap adil dan memposisikan mereka sama di mata hukum...maka perlakuan pun sepantasnya sama...

Sayangnya yg kita saksikan seolah2 di indonesia itu memiliki dualisme hukum yg berbeda memperlakukan antara keduanya...dualisme yg mengikut strata sosial dan etnis...
Why??
Mungkin saja anak yg sarungan bukan dari kalangan pengusaha/orang kaya...
Mungkin juga anak yg berkacamata dari kalangan org yg mapan dan terpandang...
(Mirip dengan uji coba LNH kemarin ketika bercadar masuk mall, saya bercadar pake mercy disambut laksana raja...ketika saya bercadar jalan kaki maka dihadang dg wajah seram dan aturanpun diterapkan.)

Inilah fakta di Negri kita tercinta ini...
Kadang menerapkan aturan kudu nelihat status sosial seseorg.... atau menerapkan hukum berdasarkan rasa suka dan tak suka...
Sungguh menyedihkan...

Laila Nahwa Harun

syiah, Cyber Tauhid
Politisi PKS yang merupakan inisiator gerakan #2019GantiPresiden Mardani Ali Sera mengatakan mudik tahun ini harus istimewa. Karena merupakan mudik terakhir sebelum pemilihan presiden tahun depan.

Mardani mengajak, manfaatkan mudik tahun ini untuk menyambung rasa, semangat dan tekad dengan keluarga di kampung halaman, karena tahun depan ada kesempatan untuk mengubah nasib Indonesia menjadi lebih baik.

"Yang di rantau harus kompak dengan yang di kampung. Kalau orang kota merasakan kesulitan hidup, biasanya di kampung terasa lebih sulit lagi. Mudik kali ini kita bisa saling berempati," tulis dia di akun Twitter, Kamis (24/5).



Selanjutnya, kata Mardani, kabarkan kepada sanak famili di kampung, bahwa orang kota sedang bergairah menjemput perubahan. Ajak mereka untuk menyambung semangat itu.

"Kaos, topi, gelang, hingga lagu, menjadi ekspresi semangat itu. Yaitu gerakan #2019GantiPresiden. Famili di kampung harus dikabari itu," imbuhnya.

Katakan juga pada handai taulan, bahwa mengganti presiden dengan legal di pilpres besok adalah langkah awal sekaligus setengah perjalanan memperbaiki nasib rakyat Indonesia.

"Tentu saja ada buah tangan untuk membuat mereka ikut bersemangat. Yaitu kaus #2019GantiPresiden dan pernak-pernik lain. Menjadi kenang-kenangan yang berkesan buat mereka," ungkapnya.

"Ayo tularkan optimisme orang kota. Ini strategi "kota menularkan semangat ke desa". Semoga kesulitan ini segera terhapus. Bersamaan dengan terwujudnya cita-cita kita: #2019GantiPresiden. InsyaAllah. #MudikIstimewa," tutup Mardani menambahkan
syiah, Cyber Tauhid
Film 212 The Power of Love sudah dapat disaksikan di bioskop-bioskop Tanah Air hari ini, Rabu (9/5/2018). Namun mulai Selasa (8/5/2018), film tersebut sudah mulai diputar di sejumlah bioskop.
Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, dan Wakil Ketua Gerindra Fadli Zon telah menonton film tersebut, di salah satu bioskop di Jakarta.


Dikutip dari Kompas.com (grup Surya.co.id), Prabowo mengaku terkesan setelah menonton film itu.
Ia bahkan akan mewajibkan seluruh kader Gerindra, untuk menonton film yang disutradarai Jastis Arimba itu.

"Saya menganjurkan untuk menonton. Saya mau pesan filmnya, saya mau copy, akan saya wajibkan seluruh anggota Gerindra untuk nonton di tempat kami," ujar Prabowo di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (8/5/2018).


Berikut adalah lima hal yang perlu kamu ketahui tentang film 212 The Power of Love.

1. Menceritakan Konflik Ayah dan Anak


Film ini berlatar belakang aksi 212 yang dilaksanakan pada Desember 2016 silam. Rahmat yang diperankan Fauzi Baadila, harus pulang ke kampung halamannya karena ibunya meninggal dunia.

Setelah pemakaman ibunya dilaksanakan, ia justru mengetahui ayahnya hendak melakukan aksi long march ke Jakarta, untuk melakukan aksi bela agama.

Rahmat tak menginginkan ayahnya ikut aksi itu karena dinilai sarat politik.

Namun ternyata, Rahmat justru terlibat dalam aksi itu, hingga akhirnya hubungannya dengan sang ayah damai.


2. Diputar di Bioskop Tertentu



Film 212 The Power of Love hanya ditayangkan di bioskop tertentu saja, karena hanya mendapat 80 slot.

Oleh karena itu, alumni dan simpatisan 212 dianjurkan untuk meramaikan film ini di hari pertama, kedua atau ketiga agar tidak diturunkan dari layar.

3. Digarap oleh Sutradara Muda


212 The Power of Love disutradarai oleh Jastis Arimba.

Film ini merupakan film layar lebar perdana bagi Jastis.

Ia dan penulis Helvy Tiana Rosa menjadi produser film ini.

4. Mengalami Kendala Saat Proses Penggarapan


Film ini mengalami beberapa kendala selama proses pengerjaannya.

Termasuk saat proses syuting hingga dana.


Namun meskipun mengalami kendala, tetapi akhirnya film ini berhasil rilis.

5. Syahrini Juga Sudah Nonton 212 The Power of Love



Syahrini merupakan salah satu artis yang ikut aksi 212.

Oleh karena itu saat film ini dirilis, ia juga sudah ikut nonton di saat nobar digelar.
syiah, Cyber Tauhid
Oleh: Tony Rosyid*

Bummm… Bom meledak. Ramai-ramai mengutuk. Meledak lagi, ramai-ramai mengutuk lagi. Kutukan berjama’ah. Diawali ucapan belasungkawa kepada keluarga para korban. Wartawan banjir undangan Pers Conference dan Release Pers. Sejumlah tokoh dan pimpinan ormas buat pernyataan. Sudah semestinya. Wajib dan harus. Itu bagian dari sense of humanity. Etika persaudaraan. Lalu, ledakan bom berhenti? Tidak! Masih ada cerita di halaman dan jilid berikutnya.

Bom akan terus meledak. Sampai kapan? Sampai ledakannya tak lagi efektif jadi alat kepentingan. Kok nuduh? Bukan. Cuma ingin bicara lebih cerdas dan substansial. Lalu, kepentingan siapa? Nah, kalau itu kalimatnya menuduh.



Simulasinya sederhana. Ada momentum yang tepat, petakan tempat dan siapkan narasinya. Lalu, bom diledakkan. Dimana intelijennya? Kok gak terlacak? Jangan tanya! Tak sesederhana itu. Masalahnya sangat kompleks. Bagi siapa? Pakai nanya lagi.

Polanya selalu sama. Bom meledak. Di tempat ibadah, atau di pusat keramaian. Media ramai, dan rakyat ribut. Investigasi, tak lama kemudian pelakunya tertangkap. Nama-namanya teridentifikasi. Pimpinannya si Anu. Si Anu jadi terkenal. Populer layaknya artis Holywood. Diburu sebagai target. Saatnya tiba, si Anu digrebek dan ditembak. Mati, dan ketemu Sang Bidadari. Ngayal! Dan terus begitu polanya. Tak berubah.

Apa targetnya? Gak pernah jelas. Setidaknya bagi orang awam. Hanya samar-samar kedengaran suara: perang di negara kafir. Jihad melawan bughat. Ingin mati sahid. Makin gak jelas lagi.

Bom itu soal nalar. Ketika nalar kepentingan bertemu nalar kebodohan, bom menjadi alat efektif untuk sebuah tujuan. Tepatnya, sebuah kepentingan. Kepentingan apa?

Pertama, untuk menyerang kelompok tertentu. Stigma dibuat, opini diciptakan, terorisme dan radikalisme didesign narasinya. Umat Islam jadi terdakwa. Cap ekstrimis nempel di jidatnya. Satu ormas dengan ormas lain saling serang. Beda pilihan politik dapat lahan pertempuran. Celana cingkrang, jidat hitam, jenggot panjang dan cadar dibawa-bawa. Jadi aksesoris ledekan. Apa hubungannya? Lalu, image muncul: ajaran Islam itu membahayakan. Hehehe. Kerja yang sempurna!

Kedua, untuk menciptakan suasana tidak aman. Kesan konflik dimunculkan. Rasa takut dikondisikan. Untuk pengalihan isu? Ah, ada-ada aja. Tapi memang, dolar naik lepas pantauan. Kemenangan oposisi Malaysia sejenak terlupakan. Hasil survei balon presiden terabaikan.

Demi merawat anggaran? Anggaran siapa? Bisa siapa saja. Atau untuk menggeser suara dan elektabilitas seseorang? Jangan su’udhan. Gak baik. Bisa-bisa jadi delik aduan. Tapi, kalau dipikir, masuk akal juga. Apalagi, pendaftaran pilpres hanya tinggal beberapa bulan. Agustus sudah dekat.

Publik curiga. Jangan-jangan, bom bunuh diri memang bukan tunggal nalarnya. Nalar bidadari atau nalar surgawi. Tapi, bagian dari sekian banyak nalar yang terkait dan saling membutuhkan. Yang satu butuh bidadari, yang lainya butuh duniawi. Bisa jadi kecurigaan itu benar. Bom tidak berdiri sendiri. “Dependent variable”. Seperti puzzle, saling melengkapi kebutuhan.

Atas nama agama? Itu soal strategi. Di dalam agama, ada ideologi dan fanatisme. Lebih mudah menemukan dan melatih aktornya. Gampang goreng isunya. Enak jualannya. Besar peluang cari dananya. Terutama bagi mereka yang suka memancing ikan di air keruh.

Rakyat mulai belajar. Pelan-pelan dibuat sadar. Bosan mengutuk para pelaku. Ada yang bilang: para pelaku hanya pion yang dilatih untuk jadi korban. Mereka bukan orang-orang penting dari sebuah tragedi melo drama ledakan. Para aktor tak lebih dari para pengeja bidadari surga. Cukup bidadari surga. Tak terlalu minat bidadari dunia. Mungkin bidadari dunia besar ongkosnya. Bidadari akhirat? Gratis! Asal mati sahid. Oh ya? Adakah mati sahid dalam kutukan umat Islam?

Para aktor patuh pada sekenario dan catatan sang sutradara. Siapa Sang Sutradara? Tak pernah terungkap. Penuh misteri dan senyap. Hanya Almarhum Gus Dur, satu sosok yang bernyali membongkar gelap.

Marah rakyat mulai mengarah kepada sang sutradara. Pembuat dan penyedia sekenario ledakan. Tapi, anonim. Tak ada identitas pada mereka. Hanya spekulasi dan duga-duga. Tapi, jelas arahnya.

Para analis bilang, mereka bukan orang biasa. Tidak sembarangan manusia. Kelompok profesional yang terlatih, berpengetahuan soal teori, dan berpengalaman soal strategi.

Boleh jadi mereka adalah agent. Teroris jadi barang jualan untuk memperbesar pendapatan. Siapa saja bisa pesan. Termasuk pihak luar negeri yang gencar jual senjata dan bicara HAM..

Layaknya barang dagangan, makin berisiko dan banyak korban, harga pasti menyesuaikan. Siapa? Jangan tanya lagi. Jawabnya gelap dan senyap. Setidaknya bagi orang awam. Anda orang awam?

Yang pasti, rakyat jadi korban. Aparat lalu dikecam karena dianggap keteledoran. Negara “dikesankan” tak aman. Sang sutradara “anonim” tetap sembunyi dan tak ketahuan. Pesanan terus mengalir, dan keuntungan bisa dinikmati hingga untuk anak cucu tujuh turunan. Besar sekali? Begitulah kira-kira yang tercatat di sekenario Sang Sutradara. [swa]

*Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
syiah, Cyber Tauhid

Baru baru ini Grand syekh Al Azhar kembali datang berkunjung ke Indonesia untuk yang ke sekian kalinya.

Diantara kunjunganya Syekh Ahmad Tayyib diundang untuk berkunjung ke kantor PBNU. Di tempat acara dipasang banner dengan kata kata dari bahasa arab yg kurang lebih artinya :

"Dari Islam Nusantara menuju kedamaian Alam semesta."

KH Said Aqil pun berbicara dengan bahasa Arab guna menjelaskan kepada syekh Ahmad Thayyib tentang apa itu Islam Nusantara. Beliau menjelaskan bahwa Islam nusantara adalah Islam orang Nusantara Indonesia, Malaysa, Brunei yang penuh toleransi anti ektrimisme dan radikal, Tidak sama dengan islam arab (sambil tertawa ringan).

Kemudian Syekh Ahmad Thayyib pun langsung menjawab secara tegas meluruskan pernyataan dari KH. Said Aqil, Beliau mengatakan :

"Seandainya saja Allah tahu bahwa bangsa Indonesia Lebih pantas dari bangsa arab untuk menerima dan mengemban Risalah penutup kenabian, maka Risalah tidak akan diturunkan kepada Nabi Muhahammad. (disambut oleh tawa para hadirin).

Syekh Ahmad menjelaskan kembali :

"Allah yang maha tahu dan Allah memilih Bangsa Arab untuk Mengemban dan melanjutkan dakwah Rasulullah saw karena Allah tahu bangsa arab lah yang mampu menyebarkan agama ini sampai ke seluruh penjuru dunia.

"Berbeda dengan nabi nabi yang Allah utus sebelumnya yang memang masa kenabianya terbatas dan jangkauan dakwahnya juga terbatas contohnya seperti nabi nabi bani israil maka dipilih nabi dari selain bangsa arab. Namun ketika diutus Nabi Muhammad nabi yang syariatnya akan selalu dijunjung hingga akhir zaman dan wajib di imani oleh seluruh manusia di seluruh penduduk bumi Maka Allah memilih bangsa arab yang pertama menerima dakwah ini dan menyebarkanya ke seluruh penjuru dunia."

Syekh ahmad thayyib melanjutkan :

"Sungguh tidak sah iman kalian kecuali kalian mencintai orang arab ini (yakni nabi Muhammad SAW) lebih dari kalian mencintai diri kalian keluarga kalian bangsa kalian dll. dalam arti lain kalau kalain anti dan sentimen terhadap bangsa arab maka tidak sah iman kalian."

"Kami belajar tentang sejarah masuknya islam disini. Bukankah yang membawa Islam ke negri kalian ini adalah orang orang arab? seandainya saja orang orang arab itu tidak datang kesini dan mengajarkan kalian bagaimana ajaran Islam maka mungkin kalian sampai saat ini masih berada dalam keyakinan umumnya orang orang timur Asia yang keyakinanya bertentangan dengan kebenaran (animisme, dinamisme, menyembah patung, pohon dll)."

"Bukankah anda tahu bahwa Rasulullah saw Marah besar ketika orang orang saling membangg-banggakan sukunya ada yang mengucap saya dari suku Aus saya dari Khazraj nabi marah sampai memerah wajahnya. Maksudnya agar Ummat Islam tidak fanatik kesukuan tapi menganggap semua muslimin adalah saudara tanpa membeda bedakan suku dan ras."

Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan & keberkahan kepada keduanya serta kepada kita semu
syiah, Cyber Tauhid
SURIAH : Rezim Assad Suriah dan sekutu-sekutunya telah meluncurkan operasi baru untuk merebut wilayah-wilayah yang dipegang oleh oposisi di provinsi Homs utara, kata koresponden Anadolu Agency yang berbasis di daerah itu pada hari Selasa (17/4/2018).

Setelah mendapatkan kendali penuh Ghouta Timur, pinggiran ibukota Damaskus, rezim dan sekutunya sekarang tampaknya telah mengarahkan pandangan mereka pada bagian Homs yang dipegang oposisi dan wilayah tambahan di Suriah tengah.

Menurut informasi yang diperoleh dari reporter Anadolu Agency di Homs, dalam tiga hari terakhir, pasukan rezim Syiah telah menguasai desa-desa Wadi al-Hubbiya, Wadi al-Qurbat, Ard al-Jassiya, Ard Kabir al-Sheyha, Zahrat Jebabi dan Zahrat Jassiya.

Warga Ghouta Terus Melarikan Diri dari Rumahnya Menuju Basis-basis Mujahidin
Selama operasi darat pasukan rezim, distrik Teblise dan Rastan di Homs, Deir Ful, Camp Malluk, Musrefiya, Zarafani dan Tirmala – semuanya merupakan rumah bagi populasi sipil yang besar – menjadi sasaran pesawat tempur, roket dan tembakan brutal rezim.

Sumber-sumber lokal mengatakan tujuan utama rezim adalah untuk menguasai jalan raya Salamiya yang menghubungkan Aleppo ke Homs utara, lalu berharap untuk merebut area seluas 600 kilometer persegi yang saat ini dipegang oleh oposisi.

128.000 Warga Douma Terperangkap Pasukan Rezim Syiah Assad
Selama lima tahun terakhir, sekitar 200.000 orang masih dikepung di Homs utara.

Rezim baru-baru ini  telah merebut Ghouta Timur – salah satu kubu terakhir oposisi di pinggiran ibukota – menyusul serangan berkelanjutan dan blokade lima tahun.

Suriah baru saja mulai bangkit dari konflik dahsyat yang dimulai pada awal 2011 ketika rezim membantai para demonstran dengan keganasan milter yang tidak terduga.

Menurut pejabat PBB, ratusan ribu orang tewas dalam konflik sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Editor : Deddy Purwanto
Sumber : Anadolu Agency
syiah, Cyber Tauhid
Jakarta – Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menyayangkan adanya pelarangan cadar di kampus. Sebab, seharusnya kampus menjadi tempat beradu gagasan dan argumen, bukan represifitas.

“Kampus itu kan universitas, dan universitas itu artinya ada universalitas di situ. Kalu kemudian kita kehilangan nalar universalitas maka ini bukan universitas. Karena universitas adalah tempat pertarungan ide, pertarungan gagasan, bahkan ideologi,” katanya saat ditemui Kiblat.net pada Jumat (16/03/2018).

Terkait larangan cadar di kalangan kampus, Dahnil mengatakan yang seharusnya dilakukan adalah proses dialektika. “Jadi kalau tidak bersepakat dengan cadar, yang dilakukan adalah berdebat, berdialog, ada proses dialektika. Kalau kampus tidak terbiasa dengan cadar kuncinya bukan represifisme, tapi dialog,” tegasnya.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa, itu menegaskan bahwa cadar adalah hal yang sifatnya furu’iyah. Sehingga, boleh ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Menurutnya, hal itu seharusnya menjadi perhatian pihak kampus.

Dahnil kemudian menjelaskan pandangan Muhammadiyah terkait cadar. Dia menjelaskan pemahaman fikih di kalangan Muhammadiyah tidak bersepakat dengan cadar. Tapi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tidak akan melarang kelompok yang punya keyakinan bahwa cadar itu wajib.

Anin, sapaan akrab Dahnil, menyebutkan bahwa pelarangan cadar di kampus adalah bukti kegamangan para penganut liberalisme. Hal itu justeru menunjukkan orang tersebut yang tidak liberal.

“Ada kegamangan liberalisme. Kok ngaku liberal tapi kemudian kehilangan nalar liberal. Ini saya pikir jadi masalah,” tandasnya.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Imam S.
syiah, Cyber Tauhid
Jumlah utang pemerintah Indonesia hingga akhir Februari 2018 telah mencapai Rp 4.034,80 triliun. Jumlah utang yang tumbuh 13,46% dibanding periode yang sama di 2017 ini terjadi saat dolar terus menguat terhadap rupiah, di mana saat ini tengah bertengger di kisaran Rp 13.700-an.

Lantas, adakah pengaruhnya terhadap peningkatan risiko utang Indonesia?

Direktur Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, hal tersebut bisa saja berbahaya jika melihat dari porsi kepemilikan surat utang yang diterbitkan pemerintah selama ini.



Enny bilang, porsi kepemilikan surat utang Indonesia oleh asing saat ini yang sebesar 40% bisa mengancam semakin melemahnya nilai tukar saat adanya aksi ambil untung oleh asing sebab dari faktor menguatnya dolar.

"Sebenarnya kalau yang megang itu orang asing, risikonya ya hampir sama dengan utang luar negeri. Bedanya nanti beban bunga dan cicilan kalau dolarnya naik, itu kan menjadi besar. Tapi kalau yang pegang asing, porsinya kan seperti yang kemarin aksi profit taking, bareng-bareng keluar, cabut, sehingga itu yang memperlemah dolar," kata Enny kepada detikFinance saat dihubungi, Kamis (15/3/2018).

Utang luar negeri Indonesia sendiri diklaim aman lantaran didominasi utang jangka panjang. Porsi utang luar negeri jangka panjang mencapai 85,7%, sedangkan yang berjangka pendek hanya 14,3% (data per akhir 2017).

Namun demikian, pertumbuhan utang jangka pendek tercatat cukup tinggi yaitu 19,8% secara tahunan dan 10,8% secara bulanan. Pertumbuhan tersebut di atas utang jangka panjang yang naik 7,5% secara tahunan dan 3,9% secara bulanan.

Porsi 40% kepemilikan asing terhadap surat utang yang diterbitkan Indonesia juga semakin mencemaskan jika fundamental ekonomi dalam negeri tidak stabil. Untuk itu, melemahnya rupiah bisa membuka ruang lebih besar bagi asing untuk melakukan aksi ambil untung.

"Artinya ruang untuk spekulasi itu terbuka karena ekonomi kita masih sangat tergantung terhadap dolar tadi. Itu namanya risiko fiskal. Kalau utangnya naik, berarti kebutuhannya tinggi. Itu yang menyebabkan ruang untuk spekulasi terbuka," pungkasnya.

VIDEO

KRISTENISASI

SYIAH

LIBERAL